Matematika merupakan
salah satu pelajaran yang tidak disukai oleh siswa. Matematika dianggap
pelajaran yang membosankan karena hanya membahas angka yang tidak ada habisnya.
Matematika juga dianggap sebagai pelajaran yang sulit karena mempelajari
hal-hal yang abstrak sehingga membuat siswa semakin tidak menyukainya. Belum
lagi penilaian matematika yang terpaku pada aspek kognitif saja sehingga siswa
menggunakan segala cara untuk mendapatkan nilai. Hal ini membuat cara yang dilakukan
siswa kurang tepat misal dengan cara menghafal. Dan akhirnya tidak
memperhatikan apakah siswa tersebut sudah paham atau belum.
Seorang guru SD
Setiabudhi Bandung bernama Imas memberikan sebuah inovasi dalam mengajarkan
dengan menggunakan pembelajaran PMRI. Pembelajaran ini lebih mengutamakan
proses daripada hasil belajar siswa. Dengan menggunakan pembelajaran PMRI yang memanfaatkan
benda-benda nyata dalam kehidupan sehari-hari sehingga diharapkan membuat siswa
lebih mengenal matematika melalui benda-benda nyata yang ada di sekitar mereka.
Manik-manik merupakan
benda yang mereka kenal dalam keseharian siswa sehingga guru memanfaatkan
manik-manik untuk dijadikan alat peraga. Manik-manik digunakan dalam materi
pengukuran pada tingkat anak sekolah dasar untuk membilang dari bilangan
101-300. Siswa tidak membilang dari 101-300 secara langsung namun siswa akan
dibentuk dalam beberapa kelompok yang kemudian diberikan sebuah permasalahan
sederhana. Masalah sederhana tersebut diselesaikan dengan menggunakan manik-manik.
Sebagai contoh, guru meminta dua orang siswa untuk maju ke depan kelas untuk
mengukur pergelangan tangan menggunakan manik-manik.
Manik-manik yang
diberikan sejumlah 50 buah dengan 4 atau 5 warna yang berbeda. Siswa menyusun
untaian kalung dengan menggunakan benang knor. Cara penyusunan warna bebas
sesuai kehendak siswa. Setelah selesai kemudian guru memberikan Lembar
Aktivitas Siswa (LAS) untuk dikerjakan. Dalam LAS siswa disuruh untuk mengukur
benda yang sudah ditentukan oleh guru dan siswa juga diberi kesempatan untuk
menentukan benda yang akan diukur selain benda yang ditentukan oleh guru.
Siswa disuruh untuk
mempresentasikan hasil diskusi mereka tentang permasalahan yang diberikan ke
depan kelas. Dengan diskusi atau demonstrasi inilah guru dapat melihat dan
menilai siswa dalam menyelesaikan masalah dengan cara yang mereka temukan
sendiri. Dari hasil temuan itu, siswa mendapatkan strateginya dalam membilang
dengan cara menggunakan manik-manik ini. Hasil lain yang diperoleh adalah
membilang kelipatan atau siswa menyebut ini bilangan loncatan serta menentukan
panjang dan lebar suatu benda yang dinyatakan dalam satuan manik-manik.
Pembelajaran dengan
menggunakan manik-manik ini memerlukan waktu setidaknya 20 jam pelajaran (3-4
kali pertemuan). Pembelajaran ini tidak
menghabiskan waktu yang cukup banyak seperti pada pembelajaran biasanya karena
materi yang diajarkan tidak diberikan per sub bab tetapi diberikan secara
keseluruhan sehingga tidak memakan waktu yang banyak.
Sumber : Buletin PMRI edisi kedua Oktober 2003 hal. 2
Oleh : Imas (Guru SD Setiabudhi Bandung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar