Jumat, 07 Februari 2014

Pengukuran Dengan Manik-Manik

Matematika merupakan salah satu pelajaran yang tidak disukai oleh siswa. Matematika dianggap pelajaran yang membosankan karena hanya membahas angka yang tidak ada habisnya. Matematika juga dianggap sebagai pelajaran yang sulit karena mempelajari hal-hal yang abstrak sehingga membuat siswa semakin tidak menyukainya. Belum lagi penilaian matematika yang terpaku pada aspek kognitif saja sehingga siswa menggunakan segala cara untuk mendapatkan nilai. Hal ini membuat cara yang dilakukan siswa kurang tepat misal dengan cara menghafal. Dan akhirnya tidak memperhatikan apakah siswa tersebut sudah paham atau belum.
Seorang guru SD Setiabudhi Bandung bernama Imas memberikan sebuah inovasi dalam mengajarkan dengan menggunakan pembelajaran PMRI. Pembelajaran ini lebih mengutamakan proses daripada hasil belajar siswa. Dengan menggunakan pembelajaran PMRI yang memanfaatkan benda-benda nyata dalam kehidupan sehari-hari sehingga diharapkan membuat siswa lebih mengenal matematika melalui benda-benda nyata yang ada di sekitar mereka.
Manik-manik merupakan benda yang mereka kenal dalam keseharian siswa sehingga guru memanfaatkan manik-manik untuk dijadikan alat peraga. Manik-manik digunakan dalam materi pengukuran pada tingkat anak sekolah dasar untuk membilang dari bilangan 101-300. Siswa tidak membilang dari 101-300 secara langsung namun siswa akan dibentuk dalam beberapa kelompok yang kemudian diberikan sebuah permasalahan sederhana. Masalah sederhana tersebut diselesaikan dengan menggunakan manik-manik. Sebagai contoh, guru meminta dua orang siswa untuk maju ke depan kelas untuk mengukur pergelangan tangan menggunakan manik-manik.
Manik-manik yang diberikan sejumlah 50 buah dengan 4 atau 5 warna yang berbeda. Siswa menyusun untaian kalung dengan menggunakan benang knor. Cara penyusunan warna bebas sesuai kehendak siswa. Setelah selesai kemudian guru memberikan Lembar Aktivitas Siswa (LAS) untuk dikerjakan. Dalam LAS siswa disuruh untuk mengukur benda yang sudah ditentukan oleh guru dan siswa juga diberi kesempatan untuk menentukan benda yang akan diukur selain benda yang ditentukan oleh guru.
Siswa disuruh untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka tentang permasalahan yang diberikan ke depan kelas. Dengan diskusi atau demonstrasi inilah guru dapat melihat dan menilai siswa dalam menyelesaikan masalah dengan cara yang mereka temukan sendiri. Dari hasil temuan itu, siswa mendapatkan strateginya dalam membilang dengan cara menggunakan manik-manik ini. Hasil lain yang diperoleh adalah membilang kelipatan atau siswa menyebut ini bilangan loncatan serta menentukan panjang dan lebar suatu benda yang dinyatakan dalam satuan manik-manik.
Pembelajaran dengan menggunakan manik-manik ini memerlukan waktu setidaknya 20 jam pelajaran (3-4 kali pertemuan).  Pembelajaran ini tidak menghabiskan waktu yang cukup banyak seperti pada pembelajaran biasanya karena materi yang diajarkan tidak diberikan per sub bab tetapi diberikan secara keseluruhan sehingga tidak memakan waktu yang banyak.

Sumber : Buletin PMRI edisi kedua Oktober 2003 hal. 2

Oleh : Imas (Guru SD Setiabudhi Bandung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar